728x90 AdSpace

  • Latest News

    12 November 2014

    RESENSI MAX HAVELAAR


    Buku ini ditulis oleh: Multatuli
    Dan diterbitkan oleh Penerbit Qanita, PT Mizan Pustaka
    480 halaman/20,5 cm
    Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
    Penyunting: Susanti Priyandari
    Proofreader: Wiwien Widjayanti
    Desainer & Fotografer Sampul: Dodi Rosadi & Ubaidilah Muchtar (Taman Baca Multatuli)

    Ringkasan:
    Max Havelaar, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten Lebak, Banten, pada abad ke-19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa oleh pemerintah Belanda yang menindas bumiputera. Dengan nama pena Multatuli, yang berarti aku menderita, dia mengisahkan kekejaman sistem tanam paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin, dan menderita. Mereka diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi korup yang sibuk memperkaya diri. Hasilnya, Belanda menerapkan Politik Etis dengan mendidik kaum pribumi elite sebagai usaha “membayar” utang mereka kepada pribumi.

    Tragis, luucu, dan humanis, Max Havelaar, salah satu karya klasik yang mendunia. Kemunculannya menggemparkan dan mengusik nurani. Buku ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan diadaptasi dalam film dan drama, gaung kisah Max Havelaar masih menyentuh pembaca sejak terbit tahun 1860 hingga kini.

    Pembahasan Isi Buku:
    Ada 3 sudut pandang buku ini yaitu melalui kacamata Batavus Droogstoppel si Makelar Kopi yang akan mewarnai beberapa bab. Sudut pandang kedua adalah milik Max Havelaar yang disusun oleh Stern. Sudut pandang terakhir (yang terdapat pada beberapa lembar terakhir) adalah milik Multatuli yang mengambil alih semua tokoh dan cerita yang ditulisnya untuk menampar pemerintah William Ketiga.

    Beberapa tokoh menonjol dalam novel ini:

    Batavus Droogstoppel, adalah makelar kopi yang hidup dalam pakem, cenderung menjadi orang dengan pikiran menyebalkan dalam buku ini. Ia mengatakan dirinya adalah pekerja keras dan senang menjunjung kebenaran serta menasbihkan diri bahwa ia orang yang jujur. Tuan Droogstoppel tidak menyukai puisi-puisi yang melankolis, dan adegan-adegan di pentas drama yang tidak logis (seperti tidak ada orang kaya mau menikahi orang miskin), hal-hal berisi kebenaran seperti itu. Ia mencemooh seorang pegawai yang merayu anak pemilik perusahaan dan membawanya kawin lari. Ia rajin ke gereja dan berdoa kepada Tuhan. Ia mengutuk orang-orang kafir. Ia mengutuk orang-orang yang kekurangan tapi mau memberi kepada orang lain padahal mereka belum mampu mencukupi kebutuhan mereka sendiri. Ia menganggap orang-orang Hindia kafir karena belum mengenal Tuhan sehingga mereka layak diperbudak, tenaganya layak diperas tanpa bayaran yang sesuai. Ia menganggap sudah sepantasnya orang-orang Belanda hidup berkecukupan karena agama mencerahkan mereka.

    Sjaalman, adalah teman masa sekolah Droogstoppel yang menyerahkan catatan-catatannya semasa di Hindia-Belanda kepada pria itu sehingga Droogstoppel atas dorongan orang-orang mau mengumpulkan kisah-kisah Sjaalman dan membukukannya karena pria itu memiliki pengetahuan tentang kopi. Menurut Droogstoppel, Sjaalman yang miskin layak hidup seperti itu karena ia malas dan arogan. Dulu di masa lalu, Sjaalman adalah satu-satunya orang yang menyelamatkan Droogstoppel dari pedagang parfum Yunani yang mau menghajarnya, dia membela Droogstoppel dari bogem mentah namun Drogstoppel meninggalkannya begitu saja, kabur menyelamatkan dirinya sendiri. Sjaalman memiliki istri (dari kalangan baik-baik dan terpandang) yang sering menangis dan dikatai Droogstoppel dalam hati sebagai perempuan yang kurang bersyukur terhadap hidupnya.

    Max Havelaar,adalah tokoh utama dalam cerita ini dengan perasaan yang sangat halus dan peka terhadap sekelilingnya. Ia senang membantu orang-orang disekelilingnya sampai melupakan kehidupan dan kebutuhannya sendiri, karena sifatnya ini ia sering merugi. Namun tampaknya puas dengan dirinya yang manusiawi dan idealis.

    Tine, adalah istri Max, yang sangat memuja suaminya dan sangat mengenal suaminya, ia rela hidup susah dengan pria itu, harus mengencangkan ikat pinggang dan memiliki banyak hutang. Istri yang menyupport keputusan yang diambil suaminya. Pada masanya, dulu, ia membayarkan hutang-hutang Max Havelaar di Natal saat ia dituduh melakukan kelalaian pencatatan pembukuan, padahal Max tidak perlu membayar hutang tersebut, karena hutang tersebut mengada-ada, merupakan skenario yang disusun oleh Residen saat ia bertugas di sana.

    Saidjah, adalah tokoh yang diciptakan Max, salah satu penduduk Parang Kudjang yang kehidupannya dirampas oleh pejabat pribumi dan kompeni.

    ….
    Garis besar buku ini menceritakan kisah Max Havelaar sebelum, saat, dan ketika ia diberhentikan menjadi Asisten Residen Lebak dan dipindah tugaskan ke tempat lain. Namun karena harga dirinya, ia memilih untuk mengundurkan diri saat itu juga, namun masih tetap memperjuangkan nasib rakyat Lebak dengan membawa masalahnya ke hadapan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, namun apa daya Sang Gubernur Jenderal tidak mau ditemui, mencari-cari alasan tidak dapat ditemui. Kita akan menyukai cara Multatuli menyampaikan ide-idenya, komentar-komentarnya, sindiran-sindiranya.

    Akhirnya Max dipindah tugaskan ke Lebak dan memutuskan untuk menggulingkan rezim Bupati Lebak yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya seperti merampas kerbau-kerbau mereka dan menyuruh mereka menggarap ladangnya tanpa dibayar, sehingga terjadilah bencana kelaparan dan ketidakmampuan rakyat membayar pajak terhadap negara; kemiskinan tiada akhir dan kerja paksa. Seperti pendahulunya Tuan Slothering (yang kabarnya meninggal karena diracun; sebab ia memperjuangkan hal yang sama seperti Havelaar) pada akhirnya Max juga dijegal oleh orang-orang yang tidak menyukai tindakannya yang ingin memenjarakan Bupati Lebak karena kesewenang-wenangannya, padahal ia sudah memberi teguran-teguran halus, berharap Sang Bupati akan berubah dan menjadi lebih lembut kepada rakyatnya, namun itu tidak pernah terjadi.

    Sebelum dipindahtugaskan ke Lebak, semasa di Natal, ia juga menghadapi konflik yang sama peliknya, ia diskorsing oleh atasannya selama 9 bulan karena menyindir kekejian atasannya menggunakan epigram; Jenderal van Damme (yang membabat habis orang Sumatera karena terobsesi Napolleon), namun dipengadilan Max dikenal sebagai pencuri kalkun yang kelaparan karena selama masa tahanan itu ia tidak diberi biaya hidup sampai menderita kelaparan, jadi ia membuat lelucon dengan mencuri satu kalkun van Damme, padahal kenyataannya adalah karena ia memberikan sindiran menyentil kepada perbuatan-perbuatan tidak manusiawi van Damme, namun fakta itu tidak pernah dibahas di pengadilan. Masih dalam konflik di Natal, ada sebuah kejadian dimana seorang saksi dipaksa berbohong bahkan ada yang dilenyapkan. Konfliknya pun pelik, melibatkan kisah pribumi-pribumi di sana sampai pada akhirnya untuk kebaikan yang lebih besar seorang bernama Pamaga dijadikan kambing hitam, ia dijatuhi hukuman kerja paksa di Jawa atas tuduhan percobaan pembunuhan kepada pemimpin pribumi setempat.

    Beberapa bab seperti 1-5, kita akan diajak mengarungi pikirannya Droogstoppel yang agak membosankan. Tapi kita akan menemukan fakta-fakta tentang sifat dasar orang Jawa yang nrimo padum, mereka sangat tunduk pada penguasa dibandingkan orang-orang Sumatera yang Islamnya sudah kental, mereka fanatik, dan lebih tidak bisa ditakhlukan (terutama Aceh), banyak pemberontakan pecah dengan alasan jihad di Sumatera. Begitu pula banyak pejabat-pejabat yang menguras tenaga rakyat untuk menghasilkan uang karena mereka terobsesi naik haji ke Mekkah—setidaknya inilah yang dilakukan oleh pejabat-pejabat di Banten. Kita juga akan melihat pola masyarakat kita yang masih marhaenis di sini, sejak jaman dulu sampai jaman sekarang, belum berubah. Buku ini menyimpan protes bisu bagaimana rakyat-rakyat yang marhaenis itu (mereka punya sawah sendiri dikelola sendiri) dipaksa mengolah tanah Rajanya (Bupati Lebak) sehingga terjadi kelaparan, banyak yang mati, terutama tenaga-tenaga produktif, bahkan sampai ibu-ibu menjual anak-anak mereka untuk makan. Dan tidak pernah masalah ini dikatakan bahwa ini salah pemerintah, selalu yang disalahkan hama atau musim tapi tidak pernah kerakusan pemerintah. Di sini juga kita akan menyadari bahwa Eropa (terutama Belanda) datang ke Indonesia membawa misi mulia selain gold dan glory-nya, mereka membawa GOSPEL. Yaitu menyebarkan agama. Seorang Gubernur Jenderal yang dikirim ke Hindia oleh Raja, sering kali diekspektasikan sebagai orang yang mumpuni untuk mengemban tugas mulia ini, meskipun sebenar-benarnya kebanyakan dari Gubernur Jenderal ini sama sekali tidak memiliki pengetahuan soal masalah-masalah pelik di Hindia. Mereka adalah orang-orang yang ingin mengeruk keuntungan, lalu saat masa jabatannya segera habis adalah orang-orang yang merindukan rumahnya sehingga melalaikan pekerjaannya.

    Bab 8, unik, karena memberitahu kita tidak semua Belanda itu tiran dan pribumi adalah si tertindas. Banyak orang Belanda yang humanis dan manusiawi seperti Max. Banyak orang pribumi yang seperti Bupati Lebak. Belanda yang awalnya membawa misi mulia membiarkan pribumi dengan gaya hidupnya yang jauh lebih besar dari gaya hidup orang Belanda berlaku semena-mena, tak jarang banyak yang juga mengambil keuntungan untuk dirinya, menimbun uang dan hidup enak setelah ia pensiun. Karena semua orang yang pernah bekerja di Hindia dan kembali ke Belanda, mereka hidup enak dan mewah, memiliki uang yang banyak, rumah yang bagus, fasilitas nomor satu. Tapi banyak juga pejabat Belanda yang bekerja di Indonesia hidup tertekan dan miskin karena tidak mau korup, hidup mereka pas-pasan dan saat kembali ke Belanda mereka hidup tidak lebih baik dari gelandangan. Contohnya Sjaalman.

    Bab 12, 13, 14 adalah kisah-kisah Max selama di Sumatera.

    Bab 17 adalah Bab yang ditunggu-tunggu, kisah Saidjah dan Adinda yang mengharukan, bagian yang paling seru dan paling sedih dalam buku ini. Keluarga Saidjah memiliki seekor kerbau yang dirampas Bupati Lebak untuk menjamu tamu-tamunya. Padahal kerbau itu satu-satunya alat untuk membajak sawah, jika mereka tidak membajak sawah mereka tidak akan mampu membayar pajak yang dibebankan pemerintah. Jadi, keluarga Saidjah membeli lagi sebuah kerbau dengan uang penjualan keris bapaknya ke orang China. Dikisahkan kerbaunya sangat kuat dan dekat dengan Saidjah, kerbau itu penurut, namun kerbau ini lagi-lagi di rampas. Saidjah sangat sedih, dan saat ayahnya hendak membeli lagi kerbau ketiga dari uang penjualan pengait kelambu, ia menanyakan keadaan kerbaunya apakah mereka memotongnya atau tidak. Kerbau ketiga ini tidak sekuat kerbau kedua, namun tetap memiliki hubungan emosional dengan Saidjah. Di Parang Kujang, anak-anak naik ke atas kerbaunya sambil membajak sawah, saat itu muncul lah macan dari dalam hutan, semua anak-anak termasuk Adinda lari. Saidjah yang berusaha menyelamatkan kerbaunya terlambat lari, dia diterjang macan namun diselamatkan si kerbau hingga kerbau itu terluka. Segeralah si kerbau menjadi kerbau kesayangan saat ia berhasil membawa Saidjah hidup-hidup, kerbau itu diobati. Namun tak berapa lama kerbau itu dirampas lagi oleh Bupati. Keluarga Saidjah tidak lagi punya uang untuk membeli kerbau, ayah Saidjah kabur, melarikan diri ke Bogor, namun karena tidak ada surat jalan ia dihukum. Beliau mati dipenjara, tak berapa lama ibunya pun menyusul. Akhirnya dia memutuskan pergi ke Batavia untuk mencari uang supaya dapat membeli kerbau lagi, ia berjanji kepada Adinda yang menjadi tunangannya sejak dulu. Dalam perjalanannya ia belajar membuat topi jerami, topi ini biasanya diekspor ke Manila. Lalu Saidjah melanjutkan lagi perjalanannya, ia bekerja sebagai kusir awalnya, namun karena gigih ia diangkat sebagai pelayan. Majikannya sayang kepadanya, ia hidup kecukupan sampai 3 tahun kemudian memutuskan kembali ke Parang Kudjang untuk menemui Adinda. Namun Adinda sudah tidak ada di sana, keluarga Adinda pergi ke Lampung, menjadi buronan karena tidak sanggup membayar pajak. Lampung adalah tempat orang-orang di Banten melarikan diri untuk menjadi pemberontak karena tekanan kolonial dan pejabat pribumi. Namun saat sampai di sana ia mendapati Andinda yang menunggunya juga sudah mati.

    Bab-bab selanjutnya berisi surat menyurat Max kepada atasannya di Lebak dan bagaimana akhirnya ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya, mengundurkan diri sampai akhirnya Multatuli mengambil alih cerita.

    ….
    Kekurangan buku ini adalah kita akan dibuat pusing dengan kisahnya yang tidak beraturan, meloncat-loncat, dari cerita A ke B ke C kembali ke A ke C lagi, seperti itu, jadi harus benar-benar jeli ketika membacanya. Tidak cukup hanya sekali kita membaca buku ini untuk bisa menyerap seluruh isinya, butuh berkali-kali. Jangan lupa siapkan catatan, sticky note, etc sebagai bantuan.

    Kelebihan buku ini adalah kita akan mendapatkan banyak sekali pengetahuan tentang pejabat pribumi kita, pejabat Belanda, dan juga kehidupan rakyat kita saat itu. Multatuli berhasil mengambarkannya dengan baik dan membuat kita semua merenungi setiap kata-katanya dan kisah-kisahnya. Benar-benar kisah yang tragis dan membuat kita tersentuh serta berfikir. Apakah kita masih sama dengan 150 tahun lalu? Atau kita sudah berubah. Karena tampaknya sekalipun pergeseran zaman itu setiap detik kita langkahi tetapi problema-problema yang mencekik leher kita sejak zaman dulu sama sekarang masih itu-itu saja; seolah sejarah punya cara sendiri untuk mengulangi kisahnya.

    Buku ini adalah salah satu buku yang wajib kita baca, sebagai orang Indonesia, apalagi jika ingin menelusuri benang merah pemerintahan masa lalu hingga masa kini. Soekarno membacanya, begitu juga dengan Kartini karena buku ini adalah buku yang kuat, saksi sejarah kita yang kelam.
    @LarasestuHsr

    Sumber: http://diarisangpemimpi.tumblr.com/post/99226236199/resensi-max-havelaar
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: RESENSI MAX HAVELAAR Rating: 5 Reviewed By: mh ubaidilah
    Scroll to Top