728x90 AdSpace

  • Latest News

    26 May 2010

    Reading Groups Minggu Ke-8 Novel Max Havelaar [lanjutan]



    Oleh Ubaidilah Muchtar

    Pembaca yang terhormat,
    Aku ingin melanjutkan catatan kecilku. Catatan Reading Gropus minggu ke-8 yang sempat terpotong. Sempat tidak aku selesaikan. Kini aku melanjutkannya kembali. Ya, ini kelanjutan catatan Reading Groups minggu ke-8 dari novel Max Havelaar. Novel yang kini usianya 150 tahun. Novel yang di museum Multatuli di Amsterdam sampai tahun 2007 tersedia 59 jilid dengan berbagai bahasa di dunia. Termasuk bahasa kita, Indonesia. Novel yang diusulkan oleh Universitas van Amsterdam untuk dijadikan sebagai warisan dunia. Ini catatanku. Catatan Reading Groups hari Selasa, 11 Mei 2010.
    Aku membaca paragraf panjang ini. Keenam belas peserta memegang buku yang sama. Mereka menyimak dengan saksama.
    Havelaar adalah seorang pria berusia tiga puluh lima tahun. Tubuhnya langsing dan gerakannya cekatan. Tak ada yang luar biasa dari penampilannya kecuali bagian atas bibirnya yang pendek dan suka bergerak-gerak, dan mata besarnya yang berwarna biru pucat, yang tampak seperti melamun jika dia sedang dalam perasaan tenang, namun menembakkan api jika dia menemukan sebuah ide bagus. Rambut lurusnya tergerai panjang dan lembut di pelipisnya, dan saya sangat memahami bahwa bagi orang yang baru pertama kali melihatnya akan memperoleh kesan bahwa mereka berhadapan dengan salah satu orang hebat di bumi baik di kepala dan di jiwa. Dia adalah sebuah "perahu kontardiksi". Tajam seperti silet, namun berhati lembut seperti seorang gadis, dia selalu menjadi yang pertama dalam merasakan kepedihan yang ditimbulkan dari kata-kata pahitnya, dan dia lebih menderita akibatnya dibandingkan dengan orang yang disakitinya. Dia cepat mengerti; dia langsung memehami hal yang sangat terhormat dan paling membingungkan; dia gembira jika dapat memecahkan masalah sulit, yang untuk itu tidak diperlukan banyak tenaga, pembelajaran atau kerja keras… Namun seringkali dia tidak memahami sesuatu yang sederhana, anak kecil dapat menjelaskan hal itu padanya. Penuh rasa cinta pada kejujuran dan keadilan, dia seringkali mengabaikan orang terdekatnya, tugas yang paling nyata, dengan maksud untuk meluruskan kesalahan yang terletak lebih tinggi, lebih jauh, atau lebih dalam, dan hal itu mungkin membuatnya butuh usaha besar untuk berjuang. Dia ksatria dan pemberani, namun seperti Don Quixote, sering menyia-nyiakan keberaniannya di kincir angin. Dia terbakar dalam ambisi yang tak terpenuhi, sehingga membuat segala perbedaan dalam masyarakat tampak tidak penting baginya, lagi pula dia berpikir bahwa kebahagiaan terbesarnya terletak dalam ketenangan, kehidupan rumah tangga yang terasing. Seorang penyair dengan perasaan tertinggi atas kata, dia memimpikan sisitem matahari dari sebuah percikan, mengisinya dengan makhluk ciptaannya, merasakan dirinya sebagai pemimpin dari dunia yang dia wujudkan sendiri… lalu, segera setelah itu dia benar-benar mampu melanjutkan, tanpa khayalan sedikit pun, sebuah percakapan mengenai harga beras, aturan tatabahasa, keuntungan ekonomis dari peternakan di Mesir. Tidak satu pun pengetahuan yang asing baginya. Dia meramalkan apa yang tidak dia ketahui, dia memiliki panca indera tingkat tinggi untuk menerapkan hal kecil yang dia ketahui—semua orang tahu namun hanya sedikit saja, dan dia, meskipun mengetahui lebih banyak dari orang lain, bukan pengecualian terhadap aturan ini—menerapkan hal kecil yang dia ketahui dengan cara yang akan melipatgandakan ukuran pengetahuannya. Dia akurat dan teratur, lagipula sangat sabar; namun semua itu adalah disiplin diri—keakuratan, kedisiplinan, dan kesabaran tidak begitu saja ada pada dirinya, karena dalam benaknya ada kecenderungan untuk berfoya-foya. Dia lambat dan berhati-hati dalam menilai, meskipun dia tidak menunjukkannya saat dia menyatakan kesimpulannya dengan cepat. Keyakinannya sangat jelas untuk dinilai orang sebagai sesuatu yang kekal, dan lagi dia sering membuktikan bahwa kepercayaan itu kekal. Segala sesuatu yang hebat dan mulia, menarik perhatiannya, dan pada saat yang sama dia juga sesederhana dan senaif anak kecil. Dia jujur, terutama saat kejujuran berubah menjadi kedermawanan, dan bersedia melupakan hutang sebesar ratusan gulden karena dia telah mendermakan ribuan gulden. Dia jenaka dan menghibur saat dia merasa leluconnya dipahami, namun bila tidak dia kasar dan membatu. Hangat pada teman-temannya, dia—terkadang terlalu bersedia—berteman dengan mereka yang menderita. Dia senditif terhadap cinta dan perhatian…jujur dengan perkataannya, sekali diucapkan… tunduk terhadap hal-hal kecil, namun teguh pada sikap keras kepala bila dia anggap berguna untuk menunjukkan karakter… rendah hati dan penolong terhadap orang-orang yang mengakui keunggulan mentalnya, namun penuntut saat mereka mencoba memperdebatkannya… terus terang keluar dengan rasa bangga, dan diam tak menentu ketika dia khawatir ketulusannya dianggap sebagai ketololan… ketika terpengaruh dengan hawa nafsu mengenai kesenangan rohani… pemalu dan kaku ketika dia mencoba menjelaskan hal yang tidak dipahami mengenai dirinya, namun pandai berbicara ketika dia merasa bahwa kata-katanya jatuh di tanah yang subur… melempem ketika tidak didesak oleh dorongan hatinya, namun antusias, bersemangat jika begitu… Terakhir, dia ramah, berkelakuan baik, dan suci dalam perilakunya: itulah, kurang lebih, Havelaar! (hal. 101-103)
    Aku sampaikan deskripsi Havelaar ini dengan pelan. Ini paragraph yang panjang. Maka harus kubaca dengan pelan. Sebab aku tak yakin jika kubaca dengan cepat para peserta dapat menyimak dengan baik. Maka kubaca dengan pelan saja. Aku berharap dengan kubaca pelan maka pemahaman setiap kalimatnya akan lebih mudah bagi para peserta. Tentu saja mereka belum menguasai semua kosakata pada paragraph tersebut. Tanpa kupersilakan untuk mulai diskusi dan bertanya, beberapa di antara mereka sudah melayangkan beberapa kata yang tidak dipamaninya.
    "Cekatan itu apa?" Tanya Sanadi
    "Cekatan itu terampil, bekerja dengan cepat, lawan dari kata lamban."
    "Oh, jadi Havelaar orangnya langsing dan kerjanya cepat?"
    "Iya."
    "Mata besarnya yang berwarna biru pucat, yang tampak seperti melamun jika dia sedang dalam perasaan tenang, namun menembakkan api jika dia menemukan sebuah ide bagus. Maksudnya apa?" Tanya Pepen.
    "Maksudnya kalau perasaannya sedang tenang, matanya terlihat seperti melamun. Nah, jika ia sedang menemukan ide maka akan terlihat senang atau semangat atau cingeus?" jawabku.
    "Ide itu apa?" Tanya Jajat.
    "Ide itu gagasan, pikiran, temuan." Jelasku
    "Tergerai?"
    "Tergerai artinya jatuh. Seperti rambut."
    "Pelipis?"
    "Pelipis itu ini." aku menunjuk ke pelipis. "Bagian kepala dekat jidat. Adanya di samping."
    "Dia berhati lembut seperti seorang gadis." Kubaca kalimat tersebut. "Hati gadis itu lembut ya?"
    "Ye…..!!!!" kata Pipih, Anisah, dan Sumi bersamaan.
    Aliyudin dan Pendi serta peserta laki-laki yang lain menggoda Pipih.
    "Perahu kontradiski itu apa maksudnya?" Tanya Pepen lagi.
    "Maksudnya di dalam diri Havelaar ini terdapat hal-hal yang terlihat saling bertentangan. Kontradiski itu artinya berlawanan, bertentangan, beradu seperti ada tajam seperti silet namun lembut seperti hati seorang gadis."
    "Seperti Don Quixote, sering menyia-nyiakan keberaniannya di kinicir angin. Itu apa maksudnya?"
    "Wah, nanti Pak Ubay cari dulu maksudnya ya untuk yang ini!"
    Aku mengulang lagi bagian-bagian yang mendeskripsikan Havelaar untuk lebih memahamkan mereka. Maka kami pun berkutat agak lama di paragraph panjang ini. Setelah dirasa paham dan tidak ada pertanyaan, aku melanjutkan kembali membaca paragraf selanjutnya. Paragraf selanjutnya mengemukakan tentang makna "kurang-lebih" dalam mendeskripsikan sosok Havelaar. Penulis menyatakan bahwa ia merasa gambaran tentang Havelaar ini sangat tidak lengkap. Kesulitan ini sering tampak dari kebiasaan para novelis yang dengan mudah membuat pahlawan dalam novelnya setan dan malaikat. Hitam dan putih sangat mudah dilukiskan sementara menerangkan atau menirukan warna yang terletak di antara kedua warna itu sangat sulit. Satu hal yang pasti menurutnya bahwa Havelaar bukanlah pria biasa.

    Paragraph selanjutnya bercerita tentang pengalaman. Ya, pengalaman. Menyombongkan pengalaman telah menjadi hal biasa yang menggelikan. Kejadian-kejadian penting dapat memberikan pengaruh kecil atau tidak sama sekali pada tipe pembawaan seseorang. Selanjutnya disinggung tentang novel Robinson Crusoe; My Prisons oleh Silvio Pellico; karya memikat Saintine Picciola; perjuangan dalam dada seorang "perawan tua", yang di sepanjang hidupnya mencintai seseorang tanpa pernah mengkhianati dengan sepatah kata pun tentang apa yang terjadi di dalam hatinya.

    Havelaar memiliki emosi yang tetap muda meski di Indonesia usia tiga puluh lima tahun tidak dapat dikatakan muda lagi. Dia dapat bermain layang-layang dengan anak kecil. Dia bermain loncat kodok. Dia menggambar motif bordir dengan anak perempuan. Dia bahkan memegang jarum (menyulam, membuat bordir) dengan senang hati.

    Aku membaca paragraph terakhir bab 6. Ini dia paragraph yang kumaksudkan.
    Babu yang dia bantu keluar dari kereta, mewakili semua babu di Hindia Timur ketika mereka sudah tua. Jika Anda mengenal pelayan sejenis ini, maka saya tidak perlu memberitahu seperti apa tampangnya. Dan jika Anda tidak tahu, saya tidak bisa memberitahu. Hanya ada ini yang bisa membedakannya dengan perawat wanita lain di Hindia… bahwa pekerjaannya sangat sedikit. Karena Ny. Havelaar merupakan teladan dalam mengasuh anak, dan apa saja yang harus dilakukan untuk atau dengan Max Kecil dia lakukan sendiri, hal yang sangat menakjubkan bagi wanita lain, yang tidak setuju seorang ibu menjadi "budak bagi anaknya". (hal107)
    Beberapa peserta tertawa kecil. Terutama dengan kalimat "Jika Anda mengenal pelayan sejenis ini, maka saya tidak perlu memberitahu seperti apa tampangnya. Dan jika Anda tidak tahu, saya tidak bisa memberitahu."
    "Lucu," kata Pipih. "Katanya jika kita tahu, maka ia tidak memberitahu. Tapi jika tidak tahu malah tidak diberitahu."
    "Nyonya Havelaar ini rajin ya." Kata Dedi Kala.
    "Iya. Ia mau mengerjakan banyak hal untuk anaknya. Ia tidak mengandalkan babu. Ia tidak menyerahkan semua kebutuhan anaknya pada pembantunya. Bahkan pembantunya malah sedikit pekerjaannya. Ia menentang sebagian pendapat yang mengatakan bahwa mengurus anak itu repot dan capek. Hanya menjadi budak saja bagi anaknya. Ia justru mau menjadi budak bagi anaknya." Jelasku.
    Kami selesai bab 6 sebelum gelap menyergap. Aku sampaikan terima kasih atas kehadiran mereka. Aku mempersilakan para peserta memakan makanan yang aku bawa. Kami berbicara sambil menikmati makanan ringan. Aku meminta mereka untuk mengisi daftar hadir Reading Groups sepeti biasa. Mereka menuliskan kesan dan pesannya. Aku sampaikan beberapa pesan mereka.

    -          Saya Minong baru kali ini say abaca buku ini ternyata mantab. (Minong)
    -          I Love riding grup. (Johar)
    -          Saya suka baca buku Max Havelaar. (Andi Suhandi)
    -          Saya sangat kagum atas kedermawanan Max Havelaar (Pipih Suyati)
    -          Saya suka sama buku ini tapi saya tidak suka sama Adipati Karta Nata Nagara. (Dedi Kala)
    -          Teman-teman ayo kita baca-baca di Taman Baca Multatuli. Jangan lupa yah, membaca Multatuli itu setiap hari Selasa. (Sujatna)
    -          Teman-teman ikutilah readingmultatuli. Reading Groups Max Havelaar. (Sumi)
    Aku menutup Selasa ini. Di luar gelap mulai datang menyergap. Sunyi. Suara hewan malam terdengar jelas. Kodok dan jangkrik ramai bersuara. Angin bertiup melambaikan spanduk di depan Taman Baca Multatuli. Aku bersiap menuju Maghrib. Seekor katak meloncat dari dapur. Di tungku perapian (hawu) kubakar plastik bungkus makanan. Kuambil air di bak. Kubasuh wajah. Kualamatkan doaku. Kusampaikan permohonanku. Semoga semua berjalan dengan baik. Itu saja.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Reading Groups Minggu Ke-8 Novel Max Havelaar [lanjutan] Rating: 5 Reviewed By: mh ubaidilah
    Scroll to Top