728x90 AdSpace

  • Latest News

    17 April 2010

    Reading Groups Minggu Ketiga Novel Max Havelaar

    Oleh Ubaidilah Muchtar


    Hari ini, Selasa, 6 April 2010. Siang yang tak begitu panas. Siang yang lembut. Aku berjalan meninggalkan sekolah. Menuju Taman Baca Multatuli. Aku hanya pulang sebentar, besok pagi pasti kembali. Sekolahku tak jauh dari tempatku tinggal selama tiga hari dalam seminggu. Ya, tiga hari dalam seminggu sejak satu tahun ini. Meski terkadang empat hari bahkan seminggu.

    Selasa ini kami akan memasuki Bab 3 novel Max Havelaar. Novel yang ditulis Multatuli di kamar loteng sebuah penginapan bernama “In de kleine prins”, di rue (jalan) de la Fourche nomor 52 di Brussel, Belgia. Novel yang kemudian menjadi termasyhur ini ditulis bulan September hingga bulan Desember 1859 yang kemudian terbit pertama kali pada tahun 1860. Dalam sejarah banyak orang tersentak karena novel ini dan berlanjut hingga sekarang. Di dalam novel ini Multatuli mengecam pemerintah Belanda yang membiarkan berlakunya tindakan yang sewenang-wenang, di mana dia sendiri selaku saksi-mata. Multatuli juga mengecam tindakan sewenang-wenang penguasa lokal terhadap rakyat.

    Tepat pukul empat, di Taman Baca Multatuli sudah ada Nurdiyanta, Aliyudin, Anisah, Sumi, Siti Nurhalimah, Rohanah, Pepen, Asep Rosidin. Asep Rosidin merupakan peserta pertama yang datang dari Cigaclung. Cigaclung, kampung yang bersebelahan dengan Ciseel. Nurdiyanta dengan sendirinya menurunkan setengah koleksi novel Max Havelaar terbitan Narasi dari rak. Kami memiliki dua puluh novel Max Havelaar terbitan Narasi dan empat novel yang sama terbitan Djambatan. Selain itu ada satu novel Max Havelaar berbahasa Belanda.

    Kubuka pertemuan dengan memperkenalkan Asep Rosidin kepada peserta yang lain. Asep satu kelas dengan Ali dan Pepen. Meski mereka sudah saling mengenal, aku tetap mengenalkannya. Hal ini kulakukan agar peserta yang lain dapat berbagi dengan Asep. Demikian juga Asep dapat mengikuti proses reading ini dengan baik. Setelah mengenalkan Asep, aku mengajak peserta mengingat kembali Bab 1 dan 2. Kuajak mereka mengingat pertama kali Batavus memperkenalkan diri sebagai seorang makelar kopi yang tingal di Lauriergracht No. 37. Kusampaikan beberapa pertanyaan sebagai pengingat.
    “Ada yang masih ingat bagaimana sifat Batavus?”
    “Dia hanya percaya akal sehat dan kebenaran,” jawab Aliyudin.
    “Ada yang lain?”
    “Dia tidak suka sastra dan drama,” timpal Sumi.
    “Siapa teman Batavus yang membantunya saat di kios gadis Yunani?” tanyaku lagi.
    “Sjaalman. Lelaki yang memakai syal,” kata Pepen.
    “Nah, di Bab 2, Selasa kemarin kita sampai pada pertemuan Batavus dengan Sjaalman. Di Bab 2 juga Batavus mengingat kembali masa kanak-kanaknya. Ketika itu Batavus untuk pertama kalinya bertemu dengan Sjaalman. Mari kita, mulai memasuki Bab 3.” Terangku.

    Kubaca paragraf pertama Bab 3 dengan pelan. Kuminta peserta melihat paragraf tersebut dan menelitinya. Setelah kubaca paragraf pertama, kusampaikan jika ada yang mau bertanya dipersilakan.
    “Frits itu siapa?” tanya Asep.
    “Frits itu anaknya Batavus Droogstoppel,” jawabku.
    “Parsel itu apa?” tanya Nurhalimah.
    “Parsel itu bungkusan atau bingkisan. Biasanya berisi berbagai macam. Ada yang isinya makanan, minuman, dan sebagainya. Biasanya dibungkus dengan memakai keranjang dan ditutup plastik. Nah, di paragraf ini kita sebut saja bungkusan.” Jelasku.
    “Nah, ini ada surat yang ditulis Sjaalman untuk Batavus Droogstoppel. Ayo, kita baca! Nanti bacanya bergiliran ya. Tiap orang baca, nanti boleh bertanya.”
    Kami membac surat Sjaalman bergiliran. Giliran pertama kuminta Nurdiyanta membacakan surat sampai isi surat yang menyatakan bahwa Sjaalman seorang penyair dan penulis. Aku sampaikan bagaimana Batavus memandang Sjaalman. Batavus memandang Sjaalman dengan sangat rendah. Sjaalman memang miskin. Ia tinggal di sebuah loteng di rumah yang tidak memiliki perapian. Waktu itu musim gugur dan cukup dingin.
    “Perapian itu, apa?” tanya Anisah.
    “Perapian itu mirip hawu (bhs. Sunda). (Hawu: Tungku untuk memasak. Di Ciseel hampir semua warga memiliki hawu.). Tapi tidak dipakai buat memasak. Dipakai untuk menghangatkan badan.” Aku coba memberi penjelasan.
    “Oh, hawu!” kata peserta serempak.

    Kuminta Sumi untuk membaca kelanjutan surat Sjaalman. Bagian surat yang mengemukakan keinginan Sjaalmaan untuk menerbitkan tulisan-tulisannya. Sjaalman tak dapat menerbitkannya sendiri karena terkendala keungan. Hal ini karena para penerbit yang didatanginya meminta bayaran di muka untuk biaya cetak dan lain sebagainya. Selain itu, Sjaalman juga menyertakan banyak manuskrip dalam suratnya kepada Batavus. Ia juga menyertakan bagian pertama buku-buk yang ingin diterbitkannya.
    “Manuskrip itu apa?” tanya Anisah.
    “Manuskrip itu tulisan-tulisan yang belum dibukukan,” terang saya.
    Paragraf selanjutnya yang menerangkan keinginan Batavus Droogstoppel untuk mengembalikan parsel itu saya baca. Para peserta menyimak dengan sungguh. Paragraf selanjutnya yang bercerita tentang adanya pesta mingguan di rumah keluarga Rosemeyer. Bagian ini dibaca dengan baik oleh Rohanah dan Pepen. Ternyata di bagian ini Frits (anaknya Batavus) telah lebih dahulu membaca beberapa cerita yang disertakan dalam surat Sjaalma. Frits banyak bercerita di dalam pesta keluarga Rosemeyer tersebut. Frits begitu piawai sehingga banyak gadis muda di pesta tersebut yang tertarik padanya. Salah satu gadis yang tertarik adalah Louise.

    Pada bagian selanjutnya, di Bab 3 ini terdapat puisi panjang yang ditulis tahun 1843 di Padang. Aku meminta Asep untuk membaca bait pertama puisi tersebut. Selanjutnya bergiliran hingga selesai puisi. Setelah selesai membaca bergiliran, aku mepersilakan peserta jika ada yang hendak bertanya. Di puisi tersebut ada beberapa kata yang ditanyakan peserta. Di antaranya: misterius, mencabik, berkat, asing, terpugar, belaian, kemuraman, fana, dan musim semi. Aku mencoba memberi penjelasan. Selesai berdiskusi, aku meminta peserta untuk membaca ulang Bab 3 ini. Saat mereka membaca ulang, aku siapkan makanan kecil. Selesai membaca ulang, para peserta kuminta untuk berfoto bersama. Oh iya, minggu ini aku membawa lima foto berbingkai ukuran 10 R. Maka jepret, jepret foto kuambil. Selain itu, aku teringat minggu ini juga kubawa foto empat buku Max Havelaar terbitan Djambatan. Maka kuturunkan juga.

    Selesai foto, aku penasaran untuk melihat terjemahan H.B. Jassin sekaligus melihat hasil terjemahan Andri Tenri W. yang baru saja dibaca bersama. Maka kuminta Sumi, Aliyudin, Nurdiyanta, Anisah, Pepen untuk membuka terjemahan H.B. Jassin. Aku membaca terjemahan yang baru dibaca. Kami akhirnya membaca berselang-seling. Kami membaca tiap bait. Saling bersahutan. Rasa terjemahannya memang beda. Bedanya di mana? Coba kita lihat puisinya. Masalah rasa mungkin hanya pembaca yang tahu. Ini dia puisinya.


    Puisi Sjaalman yang dibaca Frits yang terdapat dalam Novel Max Havelaar Terbitan Narasi tahun 2008 (hal. 38-42)

    Ibu, jauh, oh jauh dariku
    Adalah bumi dari tahun pertamaku,
    Adalah bumi dari tangisan pertamaku,
    Di mana cinta dan kasihmu,
    Di mana hati ibumu yang setia
    Perhatian yang dicurahkan kepada putramu,
    Berbagi segala bersamanya, tangis dan kebahagiaan,
    Membisikkan kesembuhan dalam setiap sakit…
    Menusia mungkin berpikir bahwaTakdir dengan kejam
    Merobek
    Ikatan yang menyatukan kita menjadi dua …
    Sungguh, aku berdiri di pantai yang asing
    Hanya diriku dan Tuhan, sendiri …
    Namun sekalipun demikian, segala dukacita,
    Kesenangan atau sakit yang telah aku rasa,
    Ibu bertahanlah pada keyakinanmu
    Akan cinta dari putramu!

    Sesekali dua kali dua tahun lalu
    Aku berada di tanah air tercinta,
    Menatap, diam di pantai,
    Ke dalam keberuntungan dan kemalangan di masa depan…
    Kemudian aku berseru kepada diriku
    Segala keindahan di masa mendatang,
    Menyajikan waktu-waktu suram yang dilingkari sumpah
    Palsu
    Tentang surge yang akan tiba…
    Maka hati yang berada di kebanggaan jiwa muda
    Dengan berani menapaki gurun kehidupan
    Menyingkirkan rintangan
    Dan, bermimpi, menganggap dirinya dalam kebahagiaan…

    Namun empat tahun yang telah hilang
    Sejak cinta terakhir kita, pertemuan perpisahan,
    Secepat kilat, berlalu menjadi satu
    Seperti hantu di dini hari fana,
    Pergi dengan kelompok mereka yang misterius
    Menandai waktu yang tak dapat dihapus!
    Lewat campuran kegembiraan dan kehinaan
    Aku telah berdoa dan aku telah berpikir
    Aku telah bersuka ria, dan aku telah bertarung,
    Melalui hari-hari yang serasa berabad-abad!
    Aku telah menemukan dan aku telah kehilangan
    Karena hidup adalah permata yang aku perjuangkan,
    Masih seorang anak, dengan menderita torehan,
    Bagi jam-jam senilai dengan keseluruhan tahun!

    Namun masih, Ibu, oh yakinlah padaku,
    Demi Tuhan Yang Maha Melihat—
    Ibu, Ibu , sekalipun begitu percayalah padaku,
    Kau tinggal di dalam kenanganku!
    Aku mencintai seorang gadis. Hidup seluruhnya adalah
    Beban
    Di antara itu cinta, tampak seringan udara.
    Di mataku dia adalah sebuah penghargaan,
    Sebuah mahkota daun salam menunggu di sana,
    Ditawarkan kepadaku oleh Tuhan yang pengasih.
    Kebahagiaan dari harta karun yang tak tercela
    Diberikan seperti ditujukan hidup padaku
    Sebagai tanda dari kesenangannya,
    Aku berterima kasih pada-Nya dengan berlutut.
    Cinta dan agama—mereka adalah satu …
    Dan jiwa dari keagungan
    Membangkitkan rasa syukur atas terciptanya dia,
    Dan dalam doa untuk dia sendiri!

    Cinta itu membawa kekhawatiran padaku,
    Siksaan memecah jiwaku menjadi dua—
    Manusia tidak dapat menahan rasa sakitnya
    Rasa luka itu mencabik jiwa yang lembut.
    Resah dan berdukacita sendiri, dalam keterpaksaan,
    Mengambil alih kesenangan tertinggi,
    Dan sebagai ganti dari harta karun yang telah lama dicari
    Bagianku tidak lain adalah kemalangan dan racun.

    Penderitaan yang bisu adalah menyenangkan!
    Dengan kuat aku berdiri, berharap dengan sangat
    Melawan harapan, melawan perjuangan ---
    Untuk kehormatannya aku menderita dengan gembira!
    Kesengsaraan oleh ukuran keberuntungan
    Membuat hadiah namun cahayanya lebih berkilau,
    Setiap kesukaran yang aku sambut,
    Memiliki takdir yang hanya menjauhi dia untuk kumiliki!

    Namun gambaran itu, yang aku bawa—
    Termanis di dunia bagiku—
    Dalam inti terdalam dari hatiku yang lemah,
    Sebagai berkat di luar pembayaran…
    Cinta untuknya adalah asing bagiku!
    Dan, meskipun cinta itu akan tetap berdiri
    Hingga terbukanya pintu Kematian
    Kepadanya lenganku akan terpugar kembali
    Di negara asal yang lebih baik…
    Cinta baru saja dimulai!

    Apa itu cinta sehingga harus dilahirkan
    Cinta yang ditekankan oleh Tuhan
    Di diri anak pada saat kelahirannya,
    Terkelu diam, di antara belaian?
    Ketika pertama kali di payudara ibunya,
    Lahir dengan susah payah dari rahim ibu,
    Menemukan embun untuk memuaskan rasa hausnya,
    Di matanya, cahaya pertama yang menembus kemuraman?

    Tidak, tidak ada ikatan yang membelenggu lebih erat,
    Laut kehidupan tidak pernah begitu liar,
    Dibandingkan dengan ikatan yang ditetapkan Tuhan
    Tidak juga ikatan ibu dan anaknya!

    Dan sebuah hati yang terbakar api
    Di mana kecantikan adalah kilasan fana
    Terjalin tidak lebih dari sebuh mahkota mawar liar,
    Yang bukan satu karangan bunga untuk impianku—
    Haruskah hati itu melupakan cinta
    Dari hati ibu yang setia?
    Dan emosi wanita yang dalam,
    Langsung mengambil alih perannya yang memesona,
    Menenangkanku dalam duka cita kekanak-kanakan,
    Mendengarkan tengisan kekanak-kanakanku yang pertama,
    Mencium air mata dari mataku,
    Memelihara dengan hidupnya?

    Ibu! Kau mungkin tidak percaya opadaku,
    Demi Tuhan Yang Maha Melihat,
    Ibu! Tetap kau harus percaya padaku,
    Kau tinggal di dalam kenanganku!

    Di sini apakah aku jauh, oh sungguh jauh
    Dari rumah yang dilimpahi ketulusan dan kegembiraan,
    Dan kegembiraan dari awal musim semi pertama,
    Seringkali kesombongan, kekayaan dan kemuliaan,
    Tidak akan turun padaku di tempat lain,
    Hati yang sepi takkan dapat bernyanyi.
    Curam dan berduri adalah jalanku,
    Kesulitan membungkukkan aku ke bumi,
    Dan kematian membebani bebanku
    Membunuh semua kedamaian, kegembiraan, keriangan, di diriku …
    Jadikan air mataku sebagai satu-satunya saksi
    Bahwa berjam-jam rasa sakit
    Membuat putramu, dengan sangat bersedih,
    Secara alami mencari payudara lagi…

    Sering ketika keberanianku hilang,
    Ini semua dipaksa dari aku:
    “Bapa! Memberiku di antara kematian
    Apa yang ada di dalam hidup yang tidak semestinya!
    Bapa! Hentikan aku dari jauh sana—
    Ketika aku merasakan ciuman kematian—
    Bapa! Hentikan aku dari jauh sana
    Istirahat… yang tidak dikenal saat aku menarik napas!”

    Namun doa itu tidak dapat menemukan pelepasan,
    Tidak bangkit menuju Tuhan di atas sana…
    Aku telah berlutut dengan merendahkan diri,
    Namun beban dari hembusan napasku,
    Adalah: “Jangan dulu, Oh Tuhan, kebahagiaan milikmu-
    Wariskan dahulu ciuman ibuku!”


    Puisi Sjaalman yang dibaca Frits yang terdapat dalam Novel Max Havelaar terjemahan H.B. Jassin terbitan Djambatan tahun 2005 (hal. 23-27)

    Ibu, jauh memang tempatku lahir,
    Negeri tempat kulihat cahaya matahari,
    Airmataku berlinang pertama kali,
    Kau besarkan aku dalam bimbingan;
    Jiwa sang anak kau isi dan kau pimpin
    Penuh kasih sayang seorang ibu
    Setia kau mendampingiku
    Kau angkat jika ku jatuh;--
    Nasib kejam memutus hubungan kita
    Tapi hanya lahirnya saja ......
    Sendiri aku berdiri di pantai asing
    Seorang diri, ...... dan Tuhan ......

    Namun ibu, apapun menggelisahkan hati,
    Yang menyenangkan maupun menyedihkan
    Janganlah ragu cintanya beta
    Cinta puteramu di dalam hati!

    Belum ada empat tahun yang silam
    Aku berdiri penghabisan kali nun di sana
    Tanpa kata di tepi pantai
    Menatap jauh ke masa depan;
    Kubayangkan segala yang indah
    Yang menunggu di masa depan,
    Kulecehkan masa kini dengan berani
    Kuciptakan surga firdausi;

    Hatiku tak gentar menempuh jalan
    Melanda segala hambatan,
    Yang melintang di depan mata,
    Ku rasa dunia bahagia semata ......

    Tapi masa itu, sejak pertemuan penghabisan kali
    Betapa cepat hilang menjauh,
    Seperti kilat tidak terperi
    Seperti bayangan melintas lalu ......
    Namun alangkah dalam, alangkah dalam
    Bekasnya yang tinggal!
    Aku merasa girang dan sedih sekali datang,
    Aku berpikir, dan aku berjuang,
    Aku bersorak, dan aku mendoa ......
    Ku rasa berabad-abad menghilang lalu!
    Aku mengejar kebahagiaan hidup,
    Aku menemukan dan aku kehilangan,
    Masa kanak kujalani cepat
    Bertahun-tahun rasa sesaat ......

    Namun percayalah bundaku sayang
    Demi langit yang melihat kita
    Percayalah ibu percayalah ......
    Puteramu tidak melupakanmu!

    Aku cintakan seorang gadis. Seluruh
    Hidup ku rasa indah karena cintaku;
    Kulihat dirinya laksana mahkota
    Ganjaran akhir cita-citaku
    Yang diberikan Tuhan sebagai tujuan;
    Behagia menerima karunia
    Yang ditentukannya untuk diriku
    Yang dikaruniakannya kepadaku
    Akupun bersyukur dengan airmata berlinang ......
    Cinta dan agama adalah satu.
    Dan jiwaku bahagia membumbung tinggi
    Mengucap syukur kepada Yang Mahatinggi
    Mengucap syukur dan mendoa untuknya sendiri ......

    Susah hatiku karena cintaku,
    Hatiku resah gelisah,
    Tiada tertahan rasanya dukacitaku
    Mengiris melukai hatiku lemah;
    Hanya takut dan derita yang ku dapat
    Bukannya nikmat yang ku harap,
    Selamat bahagia yang ku cari,
    Racun dan petaka datang mendekat ......

    Aku senang dalam derita tanpa kata!
    Aku tabuh penuh harapan; --
    Untung malang menambah gairahku, ......
    Untuknya biar ku pikul beban derita!
    Tiada kuhirau pukulan malapetaka,
    Sukacita aku dalam dukacitaku,
    Aku rela, aku rela memikul segala .......
    Asalkan nasib jangan merenggutnya dari padaku!

    Gambaran wajahnya, yang terindah bagiku di atas bumi.
    Ku bawa di dalam hati.
    Laksana barang tiada ternilai,
    Ku simpan setia dalam hatiku!
    Tiba-tiba asing ia bagiku!
    Walau cintaku bertahan
    Sampai tarikan nafas penghabisan
    Akhirnya mengembalikannya padaku
    Di tanah air nan lebih indah, ......
    Aku mulai mencintainya!

    Apakah cinta yang baru mulai,
    Dibanding cinta bersama hidup
    Dimasukkan Tuhan dalam hati si anak,
    Sebelum pandai ia bicara? ......
    Tatkala ia di dada ibunya,
    Baru saja meninggalkan kandungan,
    Menemukan susu pertama pemuas dahaga,
    Cahaya pertama di mata Bunda? ......

    Tidak, tiada ikatan yang lebih erat,
    Lebih kuat memadu hati,
    Dari ikatan Tuhan ciptakan
    Antara si anak dan hati ibunda!

    Dan hati yang begitu terpaut
    Pada keindahan sesaat berkilau;
    Yang memberiku duri semata,
    Dan tiada menjalin satupun kembang, ......
    Apakah hati itu, hati itu juga
    Lupakan kesetiaan hati ibunda; --
    Dan cinta wanita
    Yang menerima dalam hatinya gundah
    Teriakanku pertama sebagai bayi, --
    Yang membujuk daku jika menangis,
    Mencium kering airmata dari pipiku, ......
    Yang memberi ku makan dengan darahnya? ......

    Bunda janganlah percaya,
    Demi Tuhan yang melihat kita.
    Bunda janganlah percaya,
    Tidak, anakmu tidaklah lupa!

    Di sini aku jauh dari kehidupan
    Yang di sana penuh kemanisan dan keindahan;
    Kenikmatan masa pertama
    Sering dipuji dan disanjung tinggi,
    Di sini bukan bagianku
    Di tempatku yang sepi dan suram, --
    Curam dan penuh duri jalanku,
    Untung malang menekan jiwaku,
    Beban ku pikul memberat pundakku
    Dan menghimpit hatiku; --

    Biarlah airmataku menjadi saksi
    Bila kepalaku terkulai pilu
    Di saat-saat tanpa harapan
    Di tengah alam yang luas; ......
    Sering bila harapan tiada lagi,
    Hampir-hampir lepaslah keluhan:
    “Tuhanm berilah daku di alam barzah,
    “Apa yang di dunia tidak kau berikan! –
    “Tuhan, berilah daku di dunia sana,
    “Bila maut menyentuh bibirku, --
    “Tuhan, berilah daku di dunia sana
    “Apa yang di sini tidak ku kecap ......
    ketenangan!”

    Tapi, terbenam dalam bibirku,
    Doaku tak sampai kepada Tuhan, ......
    Memang aku berlutut, --
    Memang keluhan lepas dari bibirku, --
    Tapi ucapanku: “jangan dulu, ya Tuhan
    “Kembalikan dulu ibuku padaku!”

    Kami membaca hingga bait terakhir. Aku sampaikan terima kasih atas kehadiran para peserta. Suara Maghrib di masjid. Aku membereskan segalanya. Kubersiap bertemu Tuhan. Malam merayap di mataku. Gelap menyelimuti kampung. Suara onggeret (hewan yang warnanya hijau, bersuara nyaring) nyaring di tepi jalan. Aku bergerak.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Reading Groups Minggu Ketiga Novel Max Havelaar Rating: 5 Reviewed By: Syamsul Ardiansyah
    Scroll to Top