728x90 AdSpace

  • Latest News

    17 April 2010

    Reading Groups Minggu Kedua Novel Max Havelaar

    Oleh MH Ubaidilah

    Ayah Saijah memiliki seekor kerbau yang biasa digunakan untuk membajak sawahnya. Kerbau tersebut dirampas Pemimpin Distrik Parangkujang. Ayah Saijah cemas memikirkan apa yang akan terjadi. Ia membayangkan jika tak ada kerbau, maka akan terlambat membajak sawah. Jika sawah terlambat dibajak, maka masa pemupukan pun terlambat. Jika pemupukan terlambat, maka ia tidak akan memiliki padi untuk dipanen dan disimpan di lumbung.

    Ayah Saijah sangat cemas akan keluarganya. Istrinya, Saijah, adik Saijah yang lelaki dan perempuan akan makan apa? Ditambah lagi jika pemimpin distrik akan melaporkannya kepada Asisten Residen jika ia nanti terlambat membayar pajak.

    Ayah Saijah lantas menjual keris warisan keluarga peninggalan ayahnya. Keris tersebut dijualnya pada seorang Cina di Rangkasbitung. Keris tersebut laku seharga dua puluh empat gulden. Uang tersebut kemudian dibelikan kerbau lagi.

    Saijah saat itu berusia tujuh tahun. Saijah dengan kerbau tersebut seumpama soulmate. Kerbau tersebut begitu dekat dengan Saijah. Kerbau Saijah begitu pintar membajak sawah. Saat Saijah berkata “Her....Her...Her....Kia...Kia....Kia....” maka kerbau itu dengan cekatan membajak sawah. Begitu pun saat Saijah berkata, “Bus....bus....bus....” kerbau itu akan menghentikan langkahnya. Demikian persahabatan Saijah dan Kerbaunya. Sayang persahabatan tersebut hanya berlangsung dua tahun saja. Kerbau tersebut diambil dari tangannya oleh Pimpinan Distrik Parangkujang yang tak lain adalah menantu Raden Adipati Karta Nata Nagara.

    Saijah begitu kehilangan. Ia tak mau makan sampai-sampai tenggorokannya tak dapat menelan makanan. Ia sangat takut membayangkan kerbau kesayangnnya telah disembelih, seperti kerbau lainnya yang diambil oleh pemimpin distrik dari warga.

    Ayah Saijah sangat miskin. Ayah Saijah lalu menjual dua kaitan kelambu perak. Dua kaitan kelambu (kain penutup ranjang) perak tersebut merupakan pusaka warisan orangtua istrinya. Dua kaitan kelambu tersebut seharga delapan belas gulden. Uang delapan belas gulden itu lalu dibelikannya seekor kerbau baru.

    Kerbau baru tersebut tidaklah sebesar kerbau sebelumnya. Meski hasil bajakan kerbau barunya tak sebaik kerbau terdahulu, Saijah akan dengan senang hati merapikan hasil bajakan kerbaunya dengan pacul (cangkul). Kerbau Saijah yang ketiga ini memiliki user-useran (bhs. Sunda: Kulincir) tanda keberuntungan. Di suatu siang seekor macan menyerang Saijah dan kerbaunya serta teman-teman Saijah dan kerbaunya. Kerbau Saijah menyelamatkan nyawa Saijah. Saat Saijah terpelanting ke depan, kerbau tersebut seolah melindunginya. Saijah berada di antara keempat kaki kerbau, seumpama diberi atap. Sementara kepala bertanduk kerbau itu mengarah ke depan ke arah macan. Saat macan tersebut menerjang, tanduk kerbaut tersebut menyambutnya. Macan tersebut terbaring di tanah dengan perut robek menganya. Sementara kerbau menderita robek di leher. Saijah selamat.

    Saijah berusia dua belas tahun ketika kerbaunya diambil untuk dibunuh. Kerbau yang telah menyelamatkan nyawanya.

    Ayah Saijah tinggal di Kampung Badur. Kampung tersebut kini berada di wilayah Desa Cileles Kecamatan Cileles Kabupaten Lebak. Di awal proses Reading Groups Max Havelaar aku sempat menyangka bahwa Saijah tersebut warga Baduy. Hal tersebut dengan terang salah. Masalahnya warga Baduy terlarang memelihara hewan berkaki empat. Maka tidak heran jika tidak akan pernah ada kerbau atau hewan berkaki empat lainnya di wilayah Baduy. Saat ditanyakan kepada para tetangga di Taman Baca Multatuli, jawabannya itu terlarang bagi warga Baduy. Kemudian ada yang mencoba menebak jangan-jangan Badur tersebut Bagudur di wilayah Bayah. Ternyata juga salah. Kepastian tersebut terjawab saat kubuka peta Provinsi Banten Tahun 2008. Di wilayah Lebak dekat Cileles ada Parungkujang. Ya, Badur di Kecamatan Cileles. Jarak dari pusat kota sekitar 30 kilometer. Dari Taman Baca Multatuli sekitar dua jam berkendara.

    Penyerangan macan sering terjadi di daerah pedesaan di Lebak. Jika dalam cerita tersebut penyerangan terjadi siang hari, menurut beberapa orang tua penyerangan tersebut beberapa tahun terakhir ini terjadi di malam hari. Masih menurut orang tua, dahulu di sekitar tahun 1980an sering terjadi perkelahian antara kerbau dengan macan. Kerbau pemberani ditandai dengan tanduk yang dibagian ujungnya bercahaya di malam hari. Sering ditemukan jika pagi tiba di kandang kerbau ditemukan macan yang mati.

    Sementara kerbau hidup atau macan dan kerbau keduanya mati setelah bertarung semalaman. Bahkan dua tahun terakhir di Kampung Cikawah ada seekor macan yang merajalela di malam hari. Macan tersebut berhasil membunuh lebih dari tiga kerbau semalam. Macan tersebut dibunuh warga dengan cara diracun. Macan sering menyerang kerbau atau warga jika tempatnya terusik. Bahkan untuk hal yang tidak masuk akal sekali pun. Menurut orang tua di Ciseel, tempat Taman Baca Multatuli berada jika ada salah satu warga yang menebang bambu di siang hari dengan cara yang salah, malam harinya macan akan turun ke perkampungan. Yang dimaksud dengan menebang salah di antaranya menarik bambu dari bagian atasnya/pucuknya.

    Teringat user-useran (kulincir, bhs. Sunda) aku ingat Max kecil yang dipanggil sinyo (Tuan Muda) oleh Jaksa setelah Havelaar memberikan sambutan di depan para pemimpin Lebak tanggal 22 Januari. Mak kecil juga memiliki user-useran dua buah. Menurut keprcayaan orang Sunda jika anak memiliki kulincir dua tandanya anak tersebut pandai atau akan menjadi orang hebat. Saat itu Adipati mengatakan bahwa Max kecil ditakdirkan akan memakai mahkota raja. Kejadian tersebut ada di Bab 8.
    Oh, aku telah terlalu melantur jauh. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Reading Groups minggu kedua ini, acaranya diakhiri dengan membuka peta.

    Hari ini Selasa, 30 Maret 2010. Hari ini hari kedua anak-anak usia SMP Kelas IX melaksanakan Ujian Nasional. Ya, Ujian Nasional hari kedua. Bagi Taman Baca Multatuli hari ini juga yang kedua kalinya. Kedua kalinya melaksanakan Reading Groups Max Havelaar. Seperti sudah dapat ditebak, aku meninggalkan sekolah saat hari menjelang sore. Mungkin sekitar pukul tiga. Minggu ini di sekolah semua guru berkumpul. Aku pamitan untuk pulang terlebih dahulu ke Taman Baca Multatuli dan berjanji akan kembali ke sekolah malam harinya.

    Pukul setengah empat sore. Selepas memberi sampul plastik untuk buku dan majalah yang belum sempat diberi sampul, aku bersiap. Di Taman Baca Multatuli sudah ada Anisah, Maman Suparman dan adiknya, serta dua orang anak kecil lainnya. Ada juga Pak Dadang, kawanku yang tengah asyik Menyusuri Lorong-Lorong Dunia Jilid 1. Tepat pukul empat, Siti Alfiah, Sumi, Dedi Kala, Siti Nurajijah, Mariah, Pipih Suyati, dan aku. Kami bersebelas memulai membaca.

    Minggu ini bacaan kami tiba di Bab 2. Sebelum memasuki pembacaan, aku sampaikan isi Bab 1 minggu yang lalu. Hanya untuk mengingatkan kembali dan menyambungkan ingatan peserta Reading Groups. Sesekali kubertanya pada mereka isi Bab 1 terdahulu. Seperti “Siapa tokoh yang ada di Bab 1?”, “Apa pekerjaannya tokoh di Bab 1?”, “Bagaimana karakter tokoh tersebut?”, “Di mana tokoh tersebut tinggal?”, “Mengapa ia tidak menyukai puisi dan drama?”, “Siapa nama anaknya Batavus?”, “Berapa kali ia mengatakan dirinya sebagai makelar kopi yang tinggal di Lauriergracht No. 37 Amstedam?”, “Apa arti makelar?” dan pertanyaan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut layaknya apersepsi dalam proses belajar mengajar. Meski di sini tidak seperti di dalam proses belajar di dalam kelas. Para peserta pun antusias menjawabnya. Meski pun di awal-awal mereka harus membuka halaman-halaman Bab 1.

    Bab 2 berisi perkenalan tokoh Batavus dengan teman lamanya, sosok penyair yang kebetulan miskin. Batavus yang tidak menyukai sastra ikut dalam penilaiannya terhadap tokoh Sjaalman. Di Bab 2 ini tokoh Batavus mengingat kembali masa-masa kecilnya. Pada bagian ini peserta Reading Groups banyak yang terpingkal-pingkal melihat kekonyolan Batavus dan teman-temannya yang ingin berkenalan dengan gadis di Westermarket. Gadis tersebut selalu berpakaian gaya Yunani dengan mata hitam, dan jalinan rambut panjang. Gadis tersebut menjual wewangian. Batavus dan teman-temannya harus patungan uang untuk alasan agar bisa dekat si gadis Yunani. Tokoh Sjaalmanlah yang menyelamatkan Batavus ketika sedang dihajar oleh ayahnya si gadis.

    Kesombongan Batavus mulai terlihat di Bab 2 ini. Bagaimana ia menyebut temannya bukan dengan namanya. Nama Sjaalman diberikan Batavus karena syal yang melekat di leher kenalan lamanya. Cara berpakaian kenalan yang pernah menolongnya dalam perkelahian adalah tidak lazim untuk musim dingin. Orang Belanda yang kaya akan memakai mantel di tubuhnya. Dengan melihat ke masa lalu, Batavus masa kini menceritakan perkenalannya dengan Sjaalman.

    Pipih yang paling keras tertawanya. Ia tersenyum lebar saat tiba di kalimat:

    “Saya merasakan cengkeraman di tengkuk saya... cengkeraman kedua, lebih ke bawah... saya melayang di udara sejenak... dan sebelum saya benar-benar sadar tentang apa yang sedang terjadi saya sudah berada di dalam kios Yunani itu, dan dia berkata dalam bahasa Prancis yang dapat dipahami bahwa saya adalah seorang gamin (anak yang tidak sopan), dan dia akan memanggil polisi.”

    Saat kalimat itu selesai dibaca, aku meminta adiknya Maman untuk berdiri. Kucontohkan kalimat “Cengkeraman ke dua, lebih ke bawah...” maksudnya Batavus dipegang di bagian ketiaknya sebelum dilemparkan.

    Begitu pun ketika kalimat sebelumnya dibacakan, yaitu saat Batavus menceritakan bahwa gadis Yunani itu lebih tua dari mereka, bocah-bocah dari Fourth. Para peserta mesem-mesem dan akhirnya pecah tawa.

    “Saya cukup dewasa untuk berpikir bahwa, gadis itu cantik, namun tidak memiliki keberanian untuk berbicara dengannya. Bukannya saya harus melangkah lebih jauh jika saya bisa, karena gadis berusia delapan belas tahun memandang pemuda berusia enam belas tahun sebagai anak kecil, dan mereka juga pasti begitu. Sekalipun demikian, kami para bocah laki-laki dari Fourth selalu pergi ke Westermakt (tertulis tanpa huruf “e”) pada malam hari, hanya untuk memandang gadis itu.”
    “Hanya untuk memandang doang?” begitu seloroh Dedi Kala.
    “Ha....ha...ha....” tawa mereka renyah.
    Pembacaan pun selesai saat Batavus ketakutan karena kerah bajunya ditarik Sjaalman. Begitu groginya Batavus bertemu dengan Sjaalman. “Batavus Salting,” bisik Siti Alfiah. Salah tingkah, maksudnya.

    Selesai membaca dan mendiskusikannya, aku meminta semua peserta untuk membaca ulang Bab 2. Dengan teliti mereka pun membaca kembali Bab 2 ini. Saat membaca ulang, aku menyelinap sebentar ke dalam kamar, membawa permen untuk peserta. Selesai membaca ulang, aku meminta mereka untuk bertanya. Tak ada yang bertanya, maka aku sampaikan kembali isi Bab 2 ini dengan singkat.

    Selesai menyampaikan isi Bab 2, kegiatan membaca berakhir. Aku bawa peta dan kuminta mereka untuk melihat Badur. Senang mereka melihat peta. “Mana Ciseel?”, “Mana Sobang?”, “Kok, gak ada?”, “Oh, ini Cileles.”, “Ini Parungkujang.” Begitu pertanyaan dan temuan mereka. Sebagian dari mereka memang telah selesai membaca Bab 17. Gelap makin merayap. Suara alam mengiring siang ke peraduan. Malam akan tiba. Kami berbenah. Kusampaikan terima kasih untuk mereka yang hari ini ikut Reading Groups. Ku ingatkan untuk mengikuti Reading Groups Selasa yang akan datang. Sampai jumpa.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Reading Groups Minggu Kedua Novel Max Havelaar Rating: 5 Reviewed By: Syamsul Ardiansyah
    Scroll to Top