728x90 AdSpace

  • Latest News

    18 April 2010

    Reading Group Minggu keempat

    Oleh Muchtar Ubaidilah

    Kami, peserta Reading Groups Novel Max Havelaar kali ini memasuki minggu keempat. Hal ini sama artinya dengan kami memasuki Bab 4 dari novel tersebut. Catatan ini ditulis sebagai bagian dari proses reading groups novel tersebut. Minggu keempat ini tak seperti biasanya. Biasanya kegiatan reading groups kami laksanakan setiap hari Selasa. Berhubung hari Selasa aku harus turun gunung siang harinya, maka acara reading groups kami laksanakan Senin. Ya, Senin, 12 April 2010.

    Kegaiatan reading groups minggu keempat diikuti 12 peserta termasuk aku. Kesebelas peserta reading groups minggu keempat tersebut adalah: Nurdiyanta, Siti Nurhalimah, Aliyudin, Anisah, Sumi, Pipih Suyati, Armani, Asep, Dedi Kala, Pepen, Mariah. Kegiatan reading groups dilaksanakan tepat waktu. Pukul empat sore kami memulai acara.

    Aku membuka pertemuan dengan menjelaskan mengapa reading groups minggu ini dilaksanakan hari Senin. Selanjutnya pembacaan pun dimulai. Aku membaca paragraf demi paragraf di Bab 4 ini. Tiba di paragraf empat kami disuguhkan pada seratus empat puluh tiga tulisan/karangan yang terdapat dalam parsel yang dikirim Sjaalman bersama suratnya kepada Batavus Droogstoppel. Dari 143 tulisan tersebut berisi puisi, surat-surat, catatan harian, serta naskah-naskah. Tulisan-tulisan ini pun banyak yang Batavus ambil karena ia menganggapnya sebagai sesuatu yang berguna. Batavus pun menyisihkan tulisan yang menurutnya berguna. Berguna bagi keberlangsungan bukunya yang akan diterbitkan, terutama yang ada hubungannya dengan kopi. Ternyata dari 143 tulisan yang ada di Bab 4 ini masih belum semuanya.

    Dan itu jelas belum semuanya! Selain puisi-puisi—terdapat beberapa puisi dalam beragam bahasa—saya temukan juga sejumlah kecil bundel tanpa judul, roman dalam bahasa Melayu, lagu perang dalam bahasa Jawa, dan hanya Tuhan yang tahu apa yang lainnya! Saya juga menemukan surat, banyak di antaranya dalam bahasa yang tidak saya kenal. Beberapa dialamatkan padanya, yang lain telah dibaca olehnya, atau lebih baik disebut salinan surat yang ditulisnya; namun begitu dia tampaknya memiliki niatan dengan hal-hal ini, karena segalanya telah ditandatangani oleh orang lain sebagai: Salinan asli yang bersertifikasi. Sebagai tambahan, terdapat beberapa kutipan dari buku harian, catatan dan catatan aneh... beberapa di antaranya sungguh sangat aneh.

    Beberapa peserta menanyakan apa arti kata "bundel". Kusampaikan arti untuk kata tersebut. Ada juga yang bertanya seperti apa lagu perang dalam bahasa Jawa maka untuk pertanyaan seperti itu aku sampaikan nanti akan kucarikan penjelasannya.

    Untuk menyiasati banyaknya tulisan/karangan yang Sjaalman kirim ke Batavus, maka saya memiliki ide. Ya, minggu ini saya meminta para peserta selain membaca juga menulis. Sehari sebelum acara reading groups dilaksanakan, saya menyiapkan potongan kertas ukuran F4 yang dibagi empat juga spidol warna berukuran kecil. Jadi, saya meminta peserta untuk menuliskan lima judul tulisan atau karangan Sjaalman di setiap kertas dengan spidol warna yang mereka pilih sendiri. Kegiatan ini berlangsung ketika pembacaan mulai memasuki halaman 46-53. Setelah semua peserta menuliskan judul karangannya ke dalam kertas, aku meminta setiap peserta untuk membacanya. Setiap peserta ada yang kebagian menulis satu kertas, ada yang dua, ada pula yang tiga. Sebenarnya, aku berharap akan menempelkan potongan kertas tersebut ke dalam kertas kartoon ukuran besar. sehingga hasilnya akan mirip dengan majalah dinding. Sayang aku kelupaan untuk mempersiapkan hal yang satu ini.

    Setelah semua peserta membaca hasil tulisannya, pembacaan pun dilanjutkan. Pada paragraf-paragraf selanjutnya cerita mengalir dari pertemuan Batavus Droogstoppel dengan penulis bukunya, Stern. Stern, seorang pemuda Jerman yang cerdas. Stern bahkan sudah menerjemahkan beberapa syair Pria Berselendang yang berbahasa Jerman ke dalam bahasa Belanda. Kemudian Batavus dan Stern berkerja sama dalam proses penulisan buku. Di bagian ini peserta menemukan 11 hal yang disetujui antara Batavus dengan Stern. Selain Stern, Frits dan Marie juga ikut membantu. Mereka tercantum di poin nomor 3 dan 6 dari persetujuan ini. Sementara judul buku yang akan diterbitkan terdapat di poin persetujuan nomor 5. Judul buku tersebut yaitu "Pelelangan Kopi oleh Perusahaan Dagang Belanda".

    Batavus Droogstoppel adalah makelar kopi yang professional, demikian akunya. Sjaalman semakin terlihat buruk dan salah dengan syal dan pakaiannya yang kumuh, dengan sekarung (tumpukan) naskah-naskahnya, pandangan kritisnya terhadap pemerintah serta adat-istiadat Hindia (keindonesiaan)-nya. Sosok Sjaalman ditampilkan lewat tempat tinggalnya yang mencerminkan kemiskinannya, dan tentu saja lewat ucapan Batavus Droogstoppel. Meskipun sama-sama terletak di Amsterdam, kedua tempat itu boleh dikatakan bertolak belakang. Bila Lauriergracth adalah pemukiman elite yang tertata rapi dan indah dengan kanal-kanal di sampingnya maka gang Leidsche Dwaarstraat adalah daerah yang kumuh. Terlebih lagi Sjaalman dan keluarganya hanya tinggal di sebuah kamar belakang di atas. Sedangkan di bagian bawah berdiam seorang tukang loak yang menjual segala barang bekas. Pendidikan anak Sjaalman dinilai kurang oleh Batavus Droogstoppel karena menyebut dia bukan dengan tuan tetapi "kau". Dalam bagian ini, Sjaalman memang tidak diberi kesempatan sama sekali untuk menyampaikan berujar dan menyatakan jati dirinya. Pembaca diarahkan untuk melihat tokoh Sjaalman lewat mata Batavus Droogstoppel. Sedikit saja Sjaalman bertindak, tindakannya tidak luput dari penilaian Batavus Droogstoppel.

    ... Saya mengetuk, dan pitu dibuka oleh seorang wanita atau nyonya—saya sungguh tidak tahu apa yang dapat saya simpulkan dari wanita ini. Dia sangat pucat. Sosoknya menunjukkan tanda-tanda kelelahan, dan mengingatkan istri saya saat dia menyelesaikan cucian. Dia memakai kemeja atau jaket putih panjang tanpa potongan pinggang, yang menggantung hingga ke lututnya dan bagian depannya dikencangkan dengan peniti hitam. Dibalik itu, bukannya memakai gaun atau rok yang sesuai, dia memakai secarik kain linen dengan warna gelap bermotif bunga, yang tampaknya dililitkan berkali-kali di tubuhnya, dan melekat sedikit ketat di sekitar pinggang serta lututnya. Tidak ada bekas lipatan sedikit pun, lebar atau besar, seperti yang biasanya ada di gaun wanita. Saya sangat lega bahwa saya tidak mengirim Frits, sebab cara berpakaiannya menyerangku dengan sangat tidak sopan, dan keganjilan ini diperburuk dengan gerakannya yang santai, seolah-olah dia senang seperti itu. Makhluk ini tampaknya tidak sadar bahwa, dia tidak tampak seperti wanita yang lain. Saya juga mendapat gambaran bahwa, dia tampaknya sama sekali tidak malu dengan kunjungan saya. Dia tidak menyembunyikan apa pun di bawah meja, memindahkan kursi—dengan kata lain, dia sama sekali tidak melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan saat orang asing dengan tampang kelas atas tiba-tiba berada di depanmu.

    Rambutnya disisir lurus ke belakang seperti orang Cina, dan diikat di belakang kepala dengan semacam ikatan. (Saya pelajari kemudian bahwa, bajunya semacam pakaian dari Hindia Timur, di sana mereka menyebutnya sarung dan kebaya; namun menurut saya pakaian itu sangat buruk).

    Batavus Droogstoppel berangkat ke rumah Sjaalman dengan membawa gula aren yang rencananya akan menjadi oleh-oleh untuk diberikan. Sayang Batavus Droogstoppel kikir. Ia tidak jadi memberikan gula aren tersebut ke istrinya Sjaalman yang menyambutnya. Saat pembacaan bagian ini para peserta banyak yang mengomentari sifat Batavus yang pelit. Di tempat kami melakukan reading groups memang masih banyak warga yang secara tradisional membuat gula aren. Betapa 150 tahun yang lalu gula aren itu telah ada. Hingga saat ini gula aren masih dijadikan oleh-oleh oleh warga.

    Pembacaan Bab 4 berakhir ketika maghrib hampir tiba. Maka dengan cepat kusampaikan beberapa ringkasan pembacaan novel ini. Kusampaikan bahwa cerita Max Havelaar bergerak maju diawali dari pertemuan Batavus Droogstoppel dengan Sjaalman dan ketertarikannya pada tumpukan naskah yang diserahkan oleh Sjalmaan. Naskah itu menarik karena sebagian berisi tentang masalah kopi. Untuk menyeleksi dan menyusunnya menjadi sebuah cerita Batavus Droogstoppel menugasi pemuda Stern. Tentu saja Batavus Droogstoppel bebas untuk menambahi, mengoreksi dan mengomentari penulisan Stern juga permasalahan yang disajikan. Proses penyusunan naskah ini tersaji sebagai bentuk cerita. Aku juga menyampaikan paragraf terakhir Bab yang sedang dibaca ini. Pada paragraf ini Batavus Droogstoppel mengajak pembacanya terlibat dalam narasi dengan mengadakan semacam dialog; pembaca bukunya selalu disapanya. Pada bagian lain ia menggunakan ungkapan "kita". Kadang-kadang Batavus Droogstoppel tidak melakukan pembicaraan ia hanya sekadar bercerita, ia hanya menjadi seorang narator meskipun ini jarang terjadi.

    Pria Berselendang benar-benar datang. Dia telah bertemu Stern, dan telah menjelaskan beberapa kata dan hal yang tidak dia mengerti. Yang tidak dimengerti Stern, maksud saya. Saat ini saya harus meminta pada para pembaca untuk menyeberang ke bab berikutnya, lalu, saya berjanji padanya, nanti dia akan memperoleh sesuatu yang lebih solid, dari saya, Batavus Droogstoppel, makelar kopi, dari Last & Co., 37 Lauriergracht.

    Reading Groups minggu keempat hari Senin usai sudah. Peserta menutup Bab 4 dengan senang. Kami berjanji akan bertemu di Selasa mendatang. Malam menutup siang. Rembulan di atas kepala kami. Kami yang sedang belajar.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Reading Group Minggu keempat Rating: 5 Reviewed By: Syamsul Ardiansyah
    Scroll to Top