728x90 AdSpace

  • Latest News

    17 April 2010

    Membawa Max Havelaar


    Begitulah pada suatu subuh yang luruh di hari Senin, 22 Maret 2010 aku berkendara seperti biasa menuju Lebak, Banten. Karena bermaksud membawa novel Max Havelaar maka persiapan kulakukan dengan lebih baik. Pagi ini aku pergi dengan isi boks plastik 60 liter tanpa beban penuh. Hanya 20 novel Max Havelaar serta sebuah buku Menyusuri Lorong Lorong Dunia Jilid 2. Hal ini kulakuan dengan alasan jika hujan turun semalam jalanan menjadi licin dan kejadian jatuhnya aku di minggu sebelumnya tak akan terjadi. Serta ban kendaraanku yang dua kali Senin selalu bocor tak terulang. Pergelanganku masih agak ngilu juga salah satu ngelesku.

    Di Parung aku mengarah ke jurusan Rumpin. Setelah 5 km di Leuwiliang ada sebuah simpang tiga. Tampak terminal yang sepi di sebelah kiri. Saya memasuki jalan menuju Jasinga. Jalan beraspal yang bergelombang. Pada permulaan rumah-rumah penduduk kiri-kanan jalan rapat. Jalan mulai berliku-liku. Kami melewati Cigudeg yang hijau. Di kiri jalan lembah dengan latar belakang pegunungan yang hijau. Di sebelah kanan deretan sawit. Di sebagian pemandangan sangat indah. Kami menjumpai kendaraan umum berupa angkot hijau jurusan Jasinga-Bubulak. Tapi agak jarang. Makin jauh makin jarang. Setelah pertigaan Kadaka menyempatkan berhenti untuk menikmati nasi uduk dengan telur dan tahu.

    Memasuki Jasinga suasana pagi sangat ramai. Anak-anak berseragam merah putih, putih biru, dan putih abu-abu berjejer di tepi jalan. Menunggu angkutan yang akan membawanya ke sekolah tujuan. Di depan SMPN 1 Jasinga deretan kendaraan bermotor rapi di parkir. Di pertigaan saya menuju ke kiri ke arah Cipanas. 200 meter dari pertigaan Jasinga tampak keramaian luar biasa. Terminal yang menyatu dengan pasar Jasinga penyebabnya. Pedagang dan pembeli bertemu. Pun mereka yang hendak bepergian. Menunggu bus yang akan mengangkutnya ke Tangerang melalui Tenjo.

    Ada sebuah jalan kecil setelah pasar Jasinga ke kanan ke Koleang. Aku mengambil arah ke kiri ke Cipanas. Jalan rusak menyambut kami sepanjang 1 km. Selepas Jasinga tak ada penduduk di kiri-kanan jalan sampai di Curug. Yang ada hanya hamparan pegunungan hijau yang manis. Selepas Curug ada jalan melingkar. Jalan melingkar itu diperuntukkan bagi kendaraan yang tak sanggup menanjak sebab tanjakannya begitu tajam. Selapas Curug kendaraan dimanjakan dengan jalan mulus dari Kembang Kuning hingga Cipanas.

    Sebelum Cipanas ada tikungan sembilan. Tikungan ini mengingatkan aku pada lokasi lomba kebut-kebutan di film To Fast and To Furious: Drift Japan [Begitukah ejaannya?]. Selepas tikungan ke sembilan ada warung nasi yang selalu ramai dikunjungi para pengendara. Tiap kali aku lewat ada saja tiga atau empat truk yang mampir untuk makan atau sekadar beristirahat. Aku juga pernah makan di sana. Sambalnya pedas. Seingatku pemiliknya orang Citorek.

    Perjalanan berkelok-kelok setelah PT ISA. Namun jalannya bagus. Sampai di depan SMKN 1 Cipanas sebentar lagi melewati tempat pemandian air panas alami. 50 meter dari pemandian air panas ada pertigaan. Ke kiri ke Warung Banten atau ke tempat Arung Jeram sungai Ciberang. Jaraknya sekitar 10 km. Aku ke kanan ke Cipanas. Dari pertigaan itu perjalanan akan melewati SMPN 1 Cipanas dan Pom Bensin. Setelah Jasinga sejauh 30 km, Pom Bensin ini satu-satunya yang akan ditemukan.

    Di depan pasar Cipanas, orang biasanya menyebut Pasar Gajrug. Ada penunjuk arah ke kiri ke Muncang/Ciminyak. Lurus ke Rangkasbitung. Aku ke kiri ke Muncang/Ciminyak. Pasar Gajrug tampak sibuk sekali, banyak manusia. Biasanya aku tiba di sana pukul 06.30. Satu setengah jam yang lalu aku pergi meninggalkan rumah di Sawangan. Di Pasar Gajrug banyak yang menjual sayuran, makanan, dan hasil hutan. Ada petai, jengkol, kelapa, pisang, sayuran, tahu tempe, ikan, dan sebagainya.

    Jalan yang baik setelah SMAN 1 Cipanas melewati pesawahan. Setelah melewati turunan aku melintasi jembatan lebar sungai Ciberang. Sebelum SMPN 2 Cipanas ada pertigaan. Aku berbelok ke kanan ke Ciminyak. Dari sana perjalanan hanya melalui hutan perhutani. Sesekali bertemu dengan truk bermuatan bambu. Jalannya antara baik dan buruk. Ada lubang besar yang berbahaya jika sedang berlari kencang dan kendaraan tak dapat dikendalikan. Ada rumah besar di tengah perjalanan. Hanya satu. Rumahnya Jaro Karis. Di wilayah Muncang ia dikenal banyak orang. Menurut warga, Jaro yang berarti Pemimpin itu seorang yang ikut berperang melawan penjajah. Di depan rumahnya ada BTS salah satu telefon selular. Berdiri sejajar dengan bukit di sisi jalan. Bukit dan BTS ini terlihat dari Cipanas sebelum Pasar Gajrug.

    Setelah 14 km dari Pasar Gajrug. Tibalah di Pasar Ciminyak. Selain pasar, ada Puskesmas, dan gedung olahraga. Memang tak seramai Pasar Gajrug. Namun tetap kesibukan terlihat di sana. Di pertigaan depan pasar terlihat banyak tukang ojeg. Lurus ke Cimarga/Ciboleger. Ke kiri ke Sobang. Dari Bogor ada bus ke Rangkasbitung yang lewat di depan Pasar Gajrug. Dari depan Pasar Gajrug ada angkutan ke Pasar Ciminyak. Jika datang dari Rangkasbitung ada mobil [Elf] yang lewat di depan pasar Ciminyak melaui Sajira. Dulu sebelum membawa sepeda motor sendiri. Aku sering menggunakan jasa ojeg dari Ciminyak ke Ciseel. Ongkos ojegnya Rp30.000 sekali jalan. Mereka, para tukang ojeg biasanya mau menunggu jika kita mau langsung turun kembali. Dari Gajrug ke Ciminyak naik angkutan umum ongkosnya Rp8.000 hanya ada sampai pukul 14.00 saya tidak tahu berapa biaya angkutan dari Rangkasbitung hingga Ciminyak. Aku juga lupa berapa upah angkutan dari Bogor ke Gajrug. Aku seringa menginap di perjalanan.

    Oh iya, sampai ke mana perjalananku? Sampai Ciminyak ya. Dari Ciminyak ke kanan ke arah Sobang. Namun jangan terlalu jauh melangkah. Hanya 500 meter saja. Sebab ada jalan kecil ke kanan menurun. Itu yang harus aku lalui dengan boks di belakangku yang berisi novel Max Havelaar dan Menyusuri Lorong Lorong Dunia Jilid 2 Senin pagi ini. Jalan kecil beraspal baik melewati pesawahan dan sebuah Sekolah Dasar. SDN Leuwi Co’o. Baru setelah itu memasuki kampung Co’o. Dari kampung Co’o perjalan harus melewati jembatan gantung sejauh berapa meter ya? Mungkin 30 meteran. Goyangannya kadang membuat ngeri. Nah, baru dari sana petualangan sesungguhnya dimulai. Jalan tanah dan batu yang licin di musim hujan. Melewati hutan. Sejauh 5 km akan menemukan dua rumah warga Baduy yang terusir. Terkadang bertemu beberapa petani ladang yang hendak bekerja. Terkadang tak bertemu seorang pun. Kini jalannya lebih baik. Setelah jalan berbatu dengan pemandangan ladang dan pohon-pohon durian, petai, serta duku akan menemukan turunan tajam batu hingga sampai di kampung Cangkeuteuk.

    Dari Cangkeuteuk jalanan hanya selebar satu meter bahkan terkadang harus berbagi dengan longsoran kecil sepanjang jalan. Di kiri jurang di kanan tebing. Jalan tanah yang minta ampun licinnya jika hujan turun. Jika tak turun hujan pun terkadang bekas kendaraan yang menggenang menyisakan lubang yang dalam yang harus dilalui sebab tak ada pilihan. Senin pagi ini juga sama, kendaraanku harus beteriak-teriak. Namun tidak terlalu memekakan telinga dan masih dapat dikendalikan. Senin pagi yang cerah. Di sepanjang jalan antara Cangkeuteuk-Ciseel hanya kebun dan sawah. Ada sungai Ciminyak di bawah jalan. Hati-hati tergelincir. Berbahaya. Pagi ini aku bertemu ular. Saat hendak kufoto, ia menghindar. Membiarkanku melewati jalan yang sedari tadi dihalanginya. Aku menemukan longsoran kecil dan agak besar yang sudah dibersihkan.

    Warga Ciseel yang baik selalu bergotong-royong membersihkan longsoran. Ini jalan terdekat menuju Ciseel. Ada jalan yang lebih jauh agak baik jalan yang buruknya hanya 4 km. Namun harus memutar. Jauh sekali. Aku pernah berjalan kaki dari Co’o ke Ciseel. Aku pemula jalanku lambat. Waktu itu setahun yang lalu. 2,5 jam aku berjalan. Oh, iya aku hingga kini belum memakai sepatu bot. Seharusnya sudah memakainya. Seperti kawan-kawanku yang lain. Aku tiba pukul 08.00 di Taman Baca Multatuli di Ciseel RT 04/05 di rumah Kang Sarif, Pak RT. Di Ciseel tentu saja belum ada listrik. Sinyal bagaimana? Ada. Hanya tertentu operator dan tempatnya.

    Aku membiarkan diri untuk tidak mempermasalahkan jika dari Senin hingga Rabu tak ada kabar apa pun yang sampai. Harap dimengerti. “Tong maido!” [Jangan menyalahkan!]. Itu yang sering kudengar jika banyak yang tak sampai di Ciseel.

    Sore harinya, novel Max Havelaar sudah di tangan pengunjung Taman Baca Multatuli. Mereka tenggelam di dalamnya meski Reading Groups akan dilaksanakan esok hari. Mereka tak sabar tenggelam di bab 17. Mereka yang tenggelam sore hari itu Pepen, Sumi, Siti Alfiah, Aliyudin, Pipih Suyati, dan Nurdiyanta. Selamat datang Max Havelaar.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Membawa Max Havelaar Rating: 5 Reviewed By: Syamsul Ardiansyah
    Scroll to Top